RSS

Sesama Ahlus Sunnah Kok Saling Menjatuhkan

FATWA LAJNAH DAIMAH BAGI YANG GEMAR MENCELA PARA PENYERU SUNNAH

نصيحة للمشتغلين بأعراض الدعاة وجمع عيوبهم ونشرها على الملأ واعتبار ذلك من العبادات التي يتقرب بها إلى الله

Nasihat untuk orang yang selalu sibuk untuk merusak kehormatan para da’i, mencari-cari dan mengumpulkan aib-aib para da’i dan menyebarkannya di kalangan manusia, dan mereka menganggap bahwa hal itu sebagai bentuk ibadah yang bisa mendekatkan (taqorub) kepada Allah ta’ala.

الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين والصلاة والسلام على رسول الله محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.. وبعد:

Segala puji hanya milik Allah ta’ala Rabb semesta alam dan kesudahan yang baik (surga) hanyalah untuk orang-orang yang bertakwa, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad, beserta keluarga, dan semua sahabat dan pengikutnya. Wa ba’du:

فإن الدعوة إلى الله من أشرف الأعمال والدعاة من أحسن الناس قولا كما قال تعالى :

Sesungguhnya berda’wah di jalan Allah (menyebarkan syariat Allah) merupakan sebaik-baik dan semulia-mulianya pekerjaan. Pada da’i adalah orang-orang yang paling baik perkataannya, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. AL FUSHSHILAT 33).

وهم ورثة النبي -صلى الله عليه وسلم- في أخذ العلم ونشره فإن العلماء ورثة الأنبياء، وقد كان من أخلاق النبي -صلى الله عليه وسلم- محبة المسلمين والرفق بهم وتعليمهم والإحسان إليهم.

Mereka (para da’i) mewarisi Nabi Muhammad shalallahualaihiwassalam dalam pengambilan ilmu dan menyebarkannya karena para ulama adalah pewaris para Nabi alaihimusalam. Dan diantara akhlak Nabi Muhammad shalallahualaihiwassalam adalah mencintai kaum Muslimin, bersikap lemah lembut kepada mereka, mengajari mereka (ilmu agama), dan berbuat ihsan kepada mereka.

وقد ساءنا ما نسمع من بعض الدعاة المنتسبين لأهل السنة والجماعة من الشدة والقسوة على إخوانهم واشتغالهم بأعراض إخوانهم الدعاة وجمع عيوبهم ونشرها على الملأ، واعتبار ذلك من العبادات التي يتقرب بها إلى الله.

Dan sungguh sangat menyedihkan kami, apa-apa yang kami dengar dari sebagian da’i yang menisbatkan drinya sebagai (da’i) ahlussunnah wal jama’ah bersikap keras dan kasar kepada saudaranya (da’i sunnah lainnya), mereka sibuk untuk merusak kehormatan saudaranya sesama da’i, mengumpulan dan mencari aib-aib mereka kemudian menyebarkannya aib tersebut di kalangan manusia dan mereka menganggap bahwa hal itu sebagai bentuk ibadah yang bisa mendekatkan (taqorub) kepada Allah ta’ala.

ولما في ذلك من الاختلاف المذموم الذي يفرق المسلمين في مساجدهم واجتماعاتهم ويشغلهم عن الدعوة والإصلاح، وقد نهى الله تعالى عن ذلك في قوله

Dan hal ini melahirkan ikhtilaf “perpecahan” yang buruk dan tercela, merekalah yang memecahkan kaum Muslimin di masjid-masjid mereka dan dalam kehidupan berjamaah mereka, mereka sibuk dengan hal ini sehingga terlalaikan dari melaksanakan da’wah dan memperbaiki ummat, dan hal ini telah dilarang Allah ta’ala, sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ
Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka (QS. AL AN’AAM 159).

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk (QS. ALI ‘IMRAN 103).

ولما بعث الرسول -صلى الله عليه وسلم- معاذا وأبا موسى إلى اليمن قال لهما صلى الله عليه وسلم:

Dan ketika Rasulullah shallahualaihiwassalam mengutus Muadz dan Abu Musa rhadiyallahuanhuma ke Yaman, beliau shallahualaihiwassalam berkata kepada mereka berdua :

يسرا ولا تعسرا، وبشرا ولا تنفرا، وتطاوعا ولا تختلفا . رواه البخاري ومسلم.

Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membikin lari, bersatulah dan jangan berselisih (HR. Bukhari dan Muslim).

وقد علمنا أن بعض المسلمين حديثا في بلاد الغرب لما رأى هذا الاختلاف حصل له ريب وشك في صلاحية دين الإسلام لجمع كلمة المسلمين وتوحدهم فكان هذا الاختلاف فتنة فرقت المسلمين، وصدت عن اهتداء الناس لدين الإسلام وأشغلت طلبة العلم عن الدعوة وتبليغ ميراث النبي -صلى الله عليه وسلم-

Dan sungguh telah kita ketahui bahwa sebagian kaum Muslimin di negara barat (mungkin juga di Indonesia, -pen) ketika mereka mengetahui perkara ini (perselisihan) muncul keraguan dalam dirinya apakah islam (sunnah) bisa memperbaiki jamaah kaum muslimin dan persatuan kaum muslimin. Maka perselisihan ini adalah sebuah fitnah (bencana) yang memecah belah di antara kaum Muslimin, fitnah ini menghalagi manusia untuk mendapatkan petunjuk agama Islam (sunnah), dan para pencari ilmu sibuk (mengikuti fitnah ini) dan melalaikan da’wah dan menyebarkan warisan yang ditinggalkan Nabi صلى الله عليه وسلم

واللجنة الدائمة تدعو جميع الدعاة إلى الله، وأئمة المساجد إلى جمع كلمة المسلمين، وصفاء قلوبهم، وتوحيد صفوفهم، وتحذرهم من الإسهام في تفريق المسلمين، وزرع العداوات بينهم، وانشغال بعضهم ببعض ظلما وعدوانا، فإن من دعا إلى معصية صار عليه وزرها ووزر من عمل بها إلى يوم القيامة.

Dan kami Lajnah Daaimah mengajak semua da’i yang menyeru ke jalan Allah, mengajak para imam masjid, untuk bersatu (menyatukan) kaum muslimin, untuk membersihkan hati-hati mereka, merapatkan barisan kaum muslimin, dan memperingatkan untuk tidak berperan (ikut) memecah kaum muslimin, memperingatkan orang-orang yang menanam benih-benih kebencian dan permusuhan di antara kaum muslimin, memperingatkan orang-orang yang menyibukan dirinya dengan kedhaliman dan permusuhan, KARENA SESUNGGUHNYA BARANGSIAPA MENYERU KEPADA KEMAKSIATAN MAKA IA AKAN MENDAPATKAN DOSANYA DAN DOSA SEMUA ORANG YANG MELAKUKANNYA HINGGA HARI KIAMAT.

LAJNAH DAAIMAH
ANGGOTA :
Syeikh Ahmad bin Ali Al-Mubaraky
Syeikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
Syeikh Abdul Karim bin Abdullah Al-Khudhair
Syeikh Muhammad bin Hasan Alu-Syeikh

KETUA
Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu-Syeikh

Diterjemahkan oleh
Abu Fawwaz Dani Priyanto
Tasikmalaya, 07 Jumadil Awal 1439 H

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 24 January 2018 in Aqidah, Buku Islam, Fiqih

 

Haikat Takwa

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah ta’ala berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS. ALI ‘IMRAN 102).

Saudaraku yang ana cintai karena Allah ta’ala
Ketahuilah bahwasanya seruan Ilahiyah dalam ayat ini mengandung dua perkara (taklif) yang sangat agung, tidak mungkin kaum mukminin bisa bangkit tanpa keduanya yang tentunya setelah adanya bantuan Allah ta’ala, kedua perkara ini adalah bertakwa kepada Allah ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa dan mati di atas agama Islam.

Saudaraku….
Dalam Al-Qur’an terdapat sepuluh ayat (tempat) yang berisi berkaitan dengan perintah Allah ta’ala kepada hambanya untuk bertakwa, dan dalam ayat ini Allah ta’ala menegaskan perintahnya dengan kalimat “sebenar-benar takwa”.
Sungguh kalimat “sebenar-benar takwa” membuat para ulama bingung, sampai-sampai sebagian ulama mengatakan “seandainya seorang hamba jasadnya meleleh karena takut kepada Allah ta’ala maka hal ini belumlah cukup dikatakan sebagai sebenar-benar takwa”.

Kenapa ? karena Allah ta’ala Al-Jabbar “yang maha kuasa” yang jika menghendaki sesuatu cukup dengan mengatakan “Kun Fayakun”, Dzat yang maha menghidupkan dan mematkan, Dzat yang berkuasa atasa segala sesuatu.
Saudaraku…..
Para ulama salafus shalih mengatakan bahwa sebenar-benarnya takwa adalah :

أن يذكر تعالى فلا ينسى، وأن يطاع فلا يعصى، وأن يشكر فلا يكفر
“Hendaklah Allah ta’ala senantiasa diingat dan tidak dilupakan, senantiasa ditaati dan tidak dimaksiati, dan senantiasa disyukuri dan tidak dikufuri”
Sungguh Ar-Rahman telah meringankan hambanya dalam perintah “sebenar-benar takwa” dengan firman-Nya فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. AT TAGHAABUN 16), dimana ayat ini merupakan pengkhususan dari perintah takwa yang bersifat umum “sebenar-benar takwa”.

Saudaraku……
Hendaklah kita mengetahui, jika seorang hamba dibimbing oleh ketakwaannya maka berdzikir kepada Allah ta’ala dan tak pernah melupakannya, senantiasa bersyukur dan tidak pernah kupur, senantiasa mentaatinya dan tidak bermaksiat kepada-Nya, dan demikianlah mayoritas waktu dan keadaan yang ia gunakan.
Ia senantiasa memuji Allah ta’ala, melaksanakan apa saja yang diinginkan Allah ta’ala darinya yaitu berupa bertakwa kepada Allah ta’ala dengan sebenar-benar takwa semaksimal mungkin yang mampu untuk dilakukan.

Saudaraku…….
Ingatlah bahwa bertakwa kepada Allah ta’ala adalah mentaati-Nya, mentaati Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم , dengan cara melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangannya semaksimal mungkin yang ia mampu. Hanya saja ketaatan ini harus didasari oleh pengetahuan tentang perintah dan larangan serta cara melaksankannya. Maka dengan ini jelas bahwa setiap hamba wajib menuntut ilmu, berupa ilmu tentang Allah, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, yang akan membuahkan rasa cinta dan rasa takut di dalam dirinya.

Saudaraku……
Dengan mencari ilmu seorang hamba akan mengetahui segala perintah dan larangan Allah ta’a;a, mengetahui segala hal yang dicintai dan dibenci oleh Allah ta’ala, mencintai segala sesuatu yang dibenci Allah ta’ala dan membenci segala sesuatu yang dibenci Allah ta’ala. Dengan ketakwaan ini seorang hamba bisa mencapai derajat “walinya Allah ta’ala” dan dengan derajat ini ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akherat.

Saudaraku…..
Adapun makna dari kalimat وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. Ketika Allah ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa. Allah ta’ala juga melarang kita untuk mati dalam keadaan selain sebagai seorang Muslim, baik itu Yahudi, Nashrani, atau di atas agama bathil lainnya.
Lalu apakah seorang manusia mampu menentukan untuk mati di atas Islam atau di atas selain Islam? Tidak bisa. Namun tugas seorang hamba adalah senantiasa berserah diri kepada-Nya, berusaha untuk senantiasa berada di atas ketaatan kepada-Nya, supaya ia mati dalam keadaan Islam atau di atas agama Islam.
Sebagai penutup, tetaplah berada di atas ketakwaan agar kita bisa “menjamin diri kita” dengan kehendak Allah ta’ala untuk mati di atas Islam. Aamiin

Tasikmalaya, 05 Rabi’ul Akhir 1439 H / 03 Januari 2018

 

4 Macam “Cinta”

بسم اللخ الرحمن الرحيم%d9%85%d8%ad%d8%a8%d8%a9
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaraku…..
Sudah merupakan kesepakatan ulama bahwa iman terdiri dari ucapan lisan, perbuatan anggota tubuh, dan amalan hati. Dan cinta tempatnya ada di hati, sebab ia merupakan amalan hati.

Saudaraku…..
Berikut ana sampaikan empat macam cinta, semoga bermanfaat

Pertama, Cinta Ibadah (محبة عبادة)
Cinta ibadah adalah “mencintai Allah ta’ala dan mencintai siapa saja yang dicintai Allah ta’ala”, hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah” (Al-Baqarah 165)

Perasaan cinta jenis ini masuk kedalam katagori tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah, hal ini dikarenakan rasa cinta jenis ini merupakan salah satu bentuk ibadah dan tidak ada dzat yang berhak diibadahi kecuali Allah ta’ala, sehingga rasa cinta ini hukumnya wajib.
Rasa cinta jenis ini akan membuahkan sikap taat kepada Allah ta’ala, taat kepada Rasul-Nya shalallahualaihiwassalam, sikap menjauhi maksiat kepada-Nya, dan tidak ada dzat yang paling dicintai kecuali Allah ta’ala, adapun dzat selain-Nya dicintai karena Allah ta’ala seperti mencintai seorang mukmin, mencintai masjid, mencintai bulan ramadhan dll.

Kedua, cinta yang syirik (محبة شركية)
Cinta yang syirik adalah mencintai selain Allah ta’ala sama seperti mencintai-Nya atau bahkan lebih, hal ini sebagaimana f irman Allah ta’ala :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah” (Al-Baqarah 165)

Rasa cinta ini merupakan lawan dari jenis cinta yang pertama (cinta ibadah), barangsiapa yang memalingkan cinta ibadah kepada selain-Nya maka ia telah terjatuh ke dalam cinta yang syirik.

Sehingga orang yang memalingkan cinta ibadah kepada selain-Nya sungguh ia telah terjerumus ke dalam kesyirikan, baik memalingkannya kepada jin, manusia, kelompok, dunia, perkara bid’ah dll dan ini merupakan syirik besar.

Ketiga, cinta maksiat (محبة معصية)
Rasa cinta ini seperti mencintai sesuatu yang diharamkan Allah ta’ala, mencintai perbuatan bid’ah, mencintai pelaku maksiat, mencintai ahli bid’ah, mencintai pengikut hawa nafsu dan lain sebagainya.

Cinta jenis ini muncul karena lemahnya iman, sebab tidak akan bersatu di hati seorang mukmin yang sempurna imannya rasa cinta kepada Allah ta’ala dan rasa cinta terhadap sesuatu yang dimurkai Allah ta’ala.

Keempat Cinta tabiat (naluri) محبة طبيعية
Cinta jenis ini misalnya mencintai anak keturunan, mencintai pasangan hidup, mencintai keluarga besar, mencintai diri sendiri, mencintai harta benda dan lain sebagainya dari segala sesuatu yang sifatnya mubah.

Namun jika rasa cinta ini menyebabkan dirinya terfokus pada hal-hal yang ia cintai sehingga mengakibatkan lalai dari kewajiban-kewajiban agama, lalai dari ketaatan kepada Allah ta’ala maka rasa cinta ini bisa jatuh ke dalam cinta yang maiksiat bahkan bisa terjatuh ke dalam cinta yang syirkiyah.

Perlu digaris bawahi dan diperhatikan bahwa cinta jenis keempat ini akan bernilai ibadah dan pahala jika dibarengi dengan niat dan tujuan yang mulia. Misal, seorang ayah yang mencintai anaknya lalu mendidiknya dengan baik dengan harapan agar anaknya bisa berjihad di jalan Allah ta’ala, seseorang yang menyukai atau mencintai makanan tertentu, ia akan mendapat pahala ketika memakannya ia berniat supaya makanan ini menjadikan tubuhnya kuat untuk beribadah kepada Allah ta’ala dst.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua
Tasikmalaya, 16 Muharam 1438 H

 

Macam-Macam Khauf / Takut

الخوف من اللهSaudaraku kaum muslimin yang ana cintai karena Allah ta’ala Insya Allah, Semoga Allah ta’ala menganugrahkan kita kesuksesan yang hakiki, yaitu dijauhkan dari neraka dan dimasukan ke dalam syurga. Kesuksesan ini tidak akan berhasil kecuali dengan ilmu yang benar sehingga menghasilkan iman dan amal shalih yang benar.

Saudaraku kaum Muslimin :

Pada tulisan kali ini ana akan menyebutkan 4 macam rasa takut (أقسام الخوف), semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Para ulama Rahimahumullah membagi takut “الخوف” kedalam empat jenis, diantaranya :

Pertama, خوف عبادة “Khauf ibadah” yaitu perasaan takut hanya kepada Allah ta’ala saja, dan takut jenis ini masuk dalam katagori ibadah qolbiyah (hati) dan kita beribadah, bertaqarub kepada Allah ta’ala dengan rasa takut ini. Rasa takut ini akan membawa pelakunya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah ta’ala meninggalkan keharaman dan menjauhinya.

Rasa takut kepada Allah ta’ala merupakan salah satu dari rukun ibadah selain mahabbah dan rasa raja.

Saudaraku kaum Muslimin

Allah ta’ala berfirman :

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga (QS. Ar-Rahman 46).

Ayat ini berlaku umum bagi orang yang memiliki rasa takut kepada Allah ta’ala, meskipun orang ini terjatuh ke dalam kemaksiatan, namun bagi orang yang terjatuh ke dalam kemaksiatan maka ia dihukumi sebagai orang yang lemah rasa takutnya kepada Allah ta’ala, hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Darda Rhadiyallahuanhu bahwasanya Rasulullah Shalallahualaihiwassalam membaca ayat ini lalu beliau mengatakan وإن زنى وإن سرق “meskipun berzina dan mencuri” (HR. Ahmad dan Turmudzi dishahihkan oleh syeikh Al-Bani Rahimahullahuta’ala dalam silsilah hadits As-Shahihah no 826).
Allah ta’ala juga berfirman :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (Qs. An-Naziat 40-41).

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (QS. An-Nahl 50)

Kedua, شرك الخوف “Khauf syirik” yaitu seseorang takut kepada selain Allah ta’ala, seperti takut kepada jin, mayit dan lain sebagainya sama seperti takutnya kepada Allah ta’ala atau bahkan lebih.

Penyebab munculnya rasa takut ini adalah lemahnya ma’rifat atau pengenalan mereka kepada Allah ta’ala, baik dalam rububiyah-Nya, uluhiah-Nya dan nama serta sifat-Nya, sehingga mereka jatuh kepada kesyirikan diakibatkan rasa takutnya kepada jin dll, sehingga mereka melakukan penyembelihan untuk para jin tersebut, mereka membuat pelindung berupa jampi-jampi, jimat-jimat dll ketika mereka mengadakan walimah pernikahan, sakit, dan bersafar.

Begitu pula ada sebagian masyarakat yang meyakini bahwa sebagian (takut kepada) mayat, tulang, tukang sihir, atau bahkan sebagian manusia, sehingga mereka bersujud kepada mereka dan ini semua merupakan buah dari takut yang syirik.

Ketiga, خوف معصية “Khauf maksiat” yaitu perasaan takut terhadap manusia atau masyarakat banyak, yang mana rasa takut ini menyebabkan ia meninggalkan kewajiban atau terjatuh ke dalam keharaman dikarenakan takut kepada orang lain.

Lalu apa perbedaan takut jenis ini dengan takut yang syirik? Kalau takut yang syirik seseorang meyakini selain Allah ta’ala baik dari kalangan jin atau manusia bisa mendatangkan kemudharatan secara sendirinya, yang pada akhirnya membawanya untuk melakukan berbagai macam perbuatan kesyirikan.

Adapun takut maksiat adalah seseorang meyakini selain Allah ta’ala tidak mampu memberikan kemadharatan tanpa izin Allah ta’ala, namun rasa takutnya ini membawanya kedalam perbuatan (selain kesyirikan) yang diharamkan Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman”(QS. Al-‘Imran 175)

فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي

Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (QS. Al-Baqarah 150)

فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. (QS. Al-Maaidah 44).

Saudaraku kaum Muslimin
Maka dari ayat-ayat tersebut menunjukan bahwa “seorang mukmin yang sempurna keimanannya tidaklah merasa takut kepada selain Allah ta’ala yang akan membawa kepada kemaksiatan kepada-Nya, sebab hal itu jika terjadi menunjukan akan lemahnya keimanannya, sedikitnya ilmu (jahil) dan kurang dan lemahnya ia dalam bertawakal kepada Allah ta’ala.

Keempat, الخوف الطبيعي “khauf tabiat” yaitu rasa takut yang dimiliki setiap manusia secara tabiat (diciptakan memiliki rasa takut ini) seperti takutnya seseorang terhadap musuh, singa, ular, binatang buas dll.

Rasa takut ini tidak mengapa, namun jika rasa takut ini mengakibatkan seseorang meninggalkan kewajiban dan terjatuh terhadap yang diharamkan, maka berubahlah rasa takut ini menjadi takut yang maksiat, atau yang lebih dari itu yang jika rasa takut ini mengakibatkan seseorang jatuh kedalam kesyirikan, maka jatuhlah ia kedalam takut yang syirik.

Allah ta’ala berfirman tentang rasa takut yang tabiat ini

فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ

Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), (QS. Al-Qashash 18)

قَالَ رَبِّ إِنِّي قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ

Musa berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku, telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku (QS. Al-Qashash 33)

إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ

sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku (QS. Al-Qashash 34)

Sebagai penutup semoga tulisan ini menjadi lading pahal bagi ana, orang tua ana, pembaca, dan siapa saja yang ikut serta dalam selesainya tulisan ini, sehingga kita semua bisa berkumpul di syurga-Nya nanti. Amiin.
Sekian semoga bermanfaat

 

Tags: , , ,

Tafsir Surat Al-Imran ayat 100 sd 101

صراط المستقيمBismillah Assalamualaikum……!
Saudaraku kaum Muslimin, Insya Allah pada tulisan kali ini kita akan membahas tafsir surat Al-Imran ayat 254.100-101.

Ana berdo’a semoga tulisan singkat ini menjadi pahala bagi ana dan antum semua yang membacanya. Disaat bumi menjadi saksi, disaat catatan amal ditampakan, disaat mulut terkunci dan tangan, kaki, kulit bersaksi atas diri kita, disaat harta tidak berguna, disaat jabatan dan anak tidak bias membela kita, kecuali amalan shalih yang kita bawa.

Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ (100) وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (101).

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Ali-Imran 100 sd 101).

Saudaraku yang ana cintai karena Allah ta’ala
Tanamkanlah dalam hati kita, tulislah dalam jiwa kita bahwa tidaklah Allah ta’ala memanggil orang-orang mukmin dalam Al-qur’an kecuali untuk memerintahkan sesuatu amalan untuk dilaksanakan yang di dalam perintah tersebut terdapat jalan untuk mencapai kebahagiaan di kehidupan dunia dan akherat, atau untuk melarang mereka untuk menjauhi sesuatu yang di dalamnya terdapat hal-hal yang bisa mengantarkan kepada kesusahan dan penyesalan di kehidupan dunia dan akherat.

Dengan memenuhi panggilan Allah ta’ala baik dengan melaksanakan perintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya, maka jadilah orang ini masuk ke dalam katagori wali dan kekasih Allah ta’ala, dimana bagi wali Allah ini tidak akan pernah merasa takut dan tidak akan mengalami kesedihan namun mereka mendapatkan kabar gembira atau busyra bahwa kebahagian di dunia dan akherat akan mereka dapatkan dan rasakan.
Sungguh wahai saudaraku bukankah ini sebuah kebahagian yang hakiki?

Saudaraku yang ana cintai karena Allah ta’ala
Dalam ayat yang sedang kita bahas ini Allah ta’ala mengabarkan dan memperingatkan orang-orang mukmin agar tidak mentaati dan mengikuti ahli kitab baik yahudi atau nasrani, yang mana jika orang-orang mukmin mentaati ahli kitab menyebabkan batalnya keislaman mereka.

Allah ta’ala berfirman يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا “Hai orang-orang yang beriman” yaitu orang-orang yang ridha Allah ta’ala sebagai Rabbnya, orang yang ridha Islam sebagai agamanya, orang yang ridha Muhammad sebagai nabi dan Rasul-Nya.

Allah ta’ala melanjutkan إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ “jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab”. Camkanlah wahai saudaraku bahwa Ahli kitab dan orang-orang kafir itu hasad dan dengki kepda Islam dan kaum Muslimin, mereka marah dan benci akan tersebarnya cahaya Islam di barat dan di timur. Maka jika seorang mukmin mentaati mereka dalam perkara yang mereka perindah dipandangan kaum mukminin, memperindah kebatilan, kekafiran dan kefasikan, dan mereka menampilkan kepada kita bahwa hukum Islam, Ibadah, adab-adab Islam, akhlak Islam semuanya tidak sejalan dengan Demokrasi dan HAM. Mereka orang-orang kafir juga mempropagandakan bahwa ajaran Islam itu menghambat kemajuan, atau itu hanya berlaku untuk zaman ini.

Saudaraku yang ana cintai karena Allah ta’ala
Sungguh ahli kitab ini dalam hati mereka terdapat kemarahan dan kebencian kepada Islam dan kaum Muslimin, sehingga ketika kaum mukminin mentaati atau mengikuti pemikiran mereka (syubhat mereka), sungguh pada hakikatnya apa yang diikuti dari mereka akan menjerumuskan kepada kebinasaan, meskipun tampaknya indah.

Maka saudaraku….Allah ta’alapun telah mengatakan dalam ayat ini akibat dari mengikuti ahli kitab يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ “niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman”. Maka hati-hatilah dan camkanlah dalam hati kita wasiat ilahiyah ini, yang mana ketika kita memegang wasiat Allah ta’ala dalam ayat ini, sungguh kita akan selamat dan aman dari setiap makar dan tipu daya orang-orang kafir dari Ahli kitab.

Saudaraku yang ana cintai karena Allah ta’ala
Ketahuilah bahwasanya setelah ayat yang mulia ini terdapat kabar gembira bagi kita dan sebesar-besarnya perlindungan bagi kita, surat yang agung yang akan mencegah kita dari tipu daya orang-orang yang hasad kepada Islam dan kaum Muslimin dari kelompok ahli kitab, yang mana mereka sadar dan tahu bahwa ajaran Islam merupakan jalan keselamatan sedangkan jalan kaum Yahudi dan Nashrani adalah jalan yang berakhir dengan kebinasaan dan kerugian.

Namun yang menghalangi mereka dari memeluk Islam adalah rasa cinta yang sangat yang ada pada diri mereka terhadap kekuasaan, banyaknya materi yang mereka dapatkan dari tangan para pengikutnya, hawa nafsu yang telah menguasai jiwa-jiwa mereka, sedangkan Islam melarang mereka dari hal-hal tersebut bahkan melarang untuk mendekati semuanya itu. Akibatnya mereka tetap bertahan dengan kekafiran yang ada pada mereka bahwan terus berusaha sekeras tenaga membuat kaum mukminin keluar dari Islam dan sama seperti mereka.

Saudaraku yang ana cintai karena Allah ta’ala
Sungguh demi Allah…..sifat ini (yang dimiliki ahli kitab) sama persis dengan apa yang dimiliki oleh kaum syiah rafidhah yang begitu benci dan marahnya dengan tersebahnya da’wah Islam ahlussunnah, mereka mengorbankan segala yang mereka miliki untuk memalingkan kaum Muslimin ahlussunnah dari jalan keselamatan dan membawanya ke jalan kebinasaan dengan mengkafirkan sebaik-baiknya sahabat Nabi Muhammad shalallahualaihiwassalam Abu Bakar, Umar, Utsman, dan yang lainnya Rhadiyallahuanhum.

Mereka kaum syiah rafidhah mentahrif makna-makna ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad shalallahualaihiwassalam demi membenarkan kebatilan dan kerusakan madzhab dan akidah mereka, mereka berusaha menggiring kaum Muslimin untuk mengikuti mereka sehingga mereka memiliki teman di neraka dalam kebinasaan, menjuhkan kaum Muslimin dari memasuki syurganya Allah ta’ala yang maha luas.

Saudaraku yang ana cintai karena Allah ta’ala
Sungguh aqidah syiah ini merupakan kekafiran yang nyata, bukankah mengkafirkan seorang mukmin merupakan sebuah kekafiran. Lalu bagaimana jika yang mereka kafirkan adalah para sahabat Nabi yang mulia yang Allah ta’ala telah meridhainya dalam al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman :

لَّقَدْ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ ٱلشَّجَرَةِ

“Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon” (Al-Fath 18)

Saudaraku….demi Allah para sahabat Nabi merupakan orang-orang yang terbaik setelah para Nabi alihimussalam yang pernah ada di muka bumi ini, jumlah mereka ribuan bahkan ada yang mengatakan jumlahnya sampai 114.000 orang, dan diantara para sahabat Nabi shallahualaihiwassalam ada yang sudah dijamin masuk syurga ketika mereka masih berjalan di dunia.

Sungguh……kekafiran aqidah syiah (baca syiah bukan Islam) merupakan kekafiran yang nyata, sebab bagaimana mungkin Allah ta’ala mengabarkan bahwa Dia meridhai para sahabat melalui firmannya namun mereka kafir dan murtad setelah wafatnya Nabi Muhammad shallahualaihiwassalam. Sungguh aqidah dan keyakinan ini merupakan celaan dan perendahan kepada Allah ta’ala, seolah-olah Allah ta’ala tidak mengetahui yang ghaib dan yang akan datang seperti halnya seorang manusia yang hari ini ridha namun pada waktu yang lain keridhaannya berubah menjadi kebencian. Maka saudaraku camkanlah dalam hati kita panggilan dan seruan Allah ta’ala Dallam ayat ini.

Saudaraku yang ana cintai karena Allah ta’ala
Adapun perisai dan pelindung kita agar tidak terjerumus terhadap makar orang-orang kafir baik Yahudi, Nashrani, dan Rafidhah adalah firman Allah ta’ala :

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ

“Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu?”

Sungguh ayat ini merupakan perisai sekaligus sindiran, seolah-olah Allah ta’ala mengatakan “sungguh sesuatu yang aneh dan ajaib jika seorang mukmin bisa menjadi kafir dengan mengikuti orang kafir sedangkan dibacakan kepada mereka ayat-ayat Al-qur’an, dan dijelaskan kepada mereka dengan penjelasan yang gamblang oleh Rasulullah, dimana beliau menunjukan kepada umatnya cara agar terbebas dari fitnah.

Saudaraku yang ana cintai karena Allah ta’ala
Sungguh dari ayat ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa perisai seorang mukmin, jalan keluar dari fitnah syubhat dan syahwat adalah dengan mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Maka selayaknya bagi seorang mukmin untuk senantiasa menghidupkan waktu-waktu mereka, pagi, siang, malam untuk mempelajari Al-qur’an dan As-Sunnah dan mengamalkan apa yang telah mereka ketahui dari keduanya.

Mari kita hidupkan kajian-kajian dan da’wah sunnah semampu kita, sehingga setiap orang bisa menjadikan al-qur’an dan sunnah sebagai pegangan hidupnya sehingga, karena inilah inti dari jalan yang lurus yang beujung dengan kemenangan yang besar.

Sebagai penutup Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah صلى الله عليه و السلام, keluarga, sahabat, dan umatnya dan semoga ana, orang tua ana dan semua kaum muslimin bisa masuk syurga firdaus kelak dan diselamatkan dari fitnah dunia dan neraka amiin!…..wallahua’lam.
Sekian semoga bermanfaat

 

Tags: , ,

MACAM-MACAM KESYIRIKAN

الشركSaudaraku kaum muslimin yang ana cintai karena Allah ta’ala Insya Allah, Semoga Allah ta’ala menjauhkan ana, keluarga ana, dan antum semua dari bahaya kesyirikan, dan pada kali ini Insya Allah ta’ala kita akan sedikit mengenal tentang jenis-jenis kesyirikan.

Saudaraku kaum Muslimin :
Pada tulisan kali ini ana akan menyebutkan 14 macam kesyirikan yang semuanya bertingkat-tingkat bisa masuk dalam kesyirikan besar ataupun kesyirikan kecil, jenis-jenis kesyirikan diantaranya :

Pertama, شرك في الربوبية (kesyirikan dalam perkara Rububiyah Allah ta’ala) syirik jenis ini misalnya seseorang meyakini bahwasanya selain Allah ta’ala mampu menciptakan, memberikan rizki, menghidupkan, dan mematikan dan sebagainya dari sifat Rububiyah Allah ta’ala. Masuk juga dalam jenis kesyirikan ini adalah keyakinan seseorang bahwa selain Allah ta’ala bersyerikat dengan-Nya dalam perbuatan-perbuatan-Nya, seperti keyakinan bahwasanya wali-wali Allah ta’ala mengatur alam semesta, memberikan rizki terhadap seorang anak, atau wali-wali tersebut mampu menghilangkan atau mengangkat bala (bencana). Contoh yang lainnya dari kesyirikan ini adalah keyakinan bahwa bintang-bintang tertentu mampu menurunkan hujan, menurunkan kebahagiaan, menurunkan kesusahan dan sebagainya. Intinya kesyirikan rububiyah ini adalah menjadikan sifat Allah ta’ala dalam hal rububiyah dan disematkan kepada selain-Nya.

Kedua, شرك في الألوهية (Kesyirikan dalam perkara uluhiyah) yaitu seseorang memalingkan atau menyerahkan jenis dari jenis-jenis ibadah kepada selain Allah ta’ala, seperti menyembelih untuk selain Allah ta’ala, bernadzar dan berdu’a kepada selain-Nya.

Saudaraku sungguh kesyirikan jenis inilah yang paling merajalela dan menimpa kebanyakan manusia, sebab dengan kesyirikan inilah Allah ta’ala mengutus para Rasul-Nya alaihim shalatu wassalam guna melarang manusia dari kesyirikan ini dan mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah ta’ala dan yang paling menyebar luas (dalam kesyirikan jenis ini) di zaman kita sekarang adalah dari kalangan kuburiyin, sufiyin, syiah, rafidah dan manusia-manusia yang terpengaruh dengan mereka.

Ketiga, شرك في الأسماء والصفات (Kesyirikan dalam nama dan sifat Allah ta’ala) yaitu seseorang menyifati sebagian dari makhluk Allah ta’ala dengan sifat-sifat yang khusus untuk Allah ta’ala, seperti mensifati seseorang mengetahui seseuatu yang ghaib (padahal sifat ini khusus Allah ta’ala).
Sebetulnya kesyirikan ini masuk ke dalam kesyirikan Rububiyah, namun para ulama rahimahumullahu ta’ala mengkhususkan jenis kesyirikan ini karena kesyirikan ini merajalela di tengah masyarakat dengan munculnya kelompok bid’ah dan sesat seperti kelompok muathilah, mumatsilah padahal Allah ta’ala telah mensucikan diri-Nya dalam hal ini sebagaimana firman-Nya :
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ
Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakana (QS Ash Shaaffaat 180)

Keempat شرك أكبر (Syirik besar) meliputi di dalamnya syirik keyakinan, syirik rububiyah, syirik uluhiyah, syirik taat, syirik mahabbah, syirik tasyri’, syirik takut dan khosyah, yang kesemuanya ini menyebabkan pelakunya keluar dari islam.

Kelima, شرك أصغر (Syirik Kecil) yaitu segala wasilah atau perantara kepada syirik besar baik yang sifatnya dhahir seperti bersumpah dengan selain Allah ta’ala, atau mengatakan dengan kehendak Allah dan kehendak si fulan. Bisa juga syirik ini sifatnya bathin seperti riya, sum’ah, ujub dan ingin popularitas. Syirik kecil ini tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam namun wajib atasnya untuk bertaubat.

Keenam, شرك خفي (Syirik Khofi) yaitu seseorang beramal demi kepentingannya sendiri. Syirik jenis ini bisa masuk ke dalam syirik besar dan syirik kecil.

Ketujuh, شرك إعتقاد (Syirik I’tiqodi) yaitu seseorang meyakini bahwasanya selain Allah ta’ala mampu menciptakan, memberikan rizki, menghidupkan, mematikan, atau mengetahui hal ghaib, yang kesemuanya ini menyebabkan pelakunya keluar dari agama.

Kedelapan, شرك عملي (Syirik amali/perbuatan) yaitu setiap amalan yang dihukumi oleh hukum syariat Islam sebagai amalan kesyirikan, baik itu syirik besar seperti menyembelih untuk selain Allah ta’ala, nadzar untuk selain Allah ta’ala, bersujud kehadapan berhala atau kubur.

Kesembilan, شرك لفظي (Syirik perkataan) yaitu setiap ucapan atau lafad yang dihukumi syariat sebagai ucapan kesyirikan. Seperti bersumpah dengan selain Allah ta’ala, seperti seseorang mengatakan “aku bertawakal kepada Allah dan kepada si fulan” “seandainya gak ada Allah dan si fulan pasti akan begini dan begini” dan perkataan yang lainnya. Syirik jenis ini bisa tergolong syirik besar ataupun syirik kecil.

Kesepuluh, شرك التشريع (kesyirikan dalam pembuatan hukum atau undang-undang) yaitu orang yang membuang atau mengesampingan Al-Qur’an dan As-Sunnah atau membuang sebagian dari hukum-hukumnya, lalu ia mengambil hukum hasil pemikiran dan kesepakatan manusia (yang bertentangan dengan syariat) Allah ta’ala berfirman :

أَمْ لَهُمْ شُرَكَٰٓؤُا۟ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS ASY SYURA 21)

Para ulama Rahimahumullah membagi kesyirikan jenis ini kedalam dua katagori. Katagori pertama memakai hukum selain Allah ta’ala yang menyebabkan pelakunya kafir dan keluar dari Islam, mereka adalah orang yang menganggap bahwa hukum yang mereka buat sama dengan hukum Allah ta’ala, menganggap hukum mereka lebih baik dari pada hukum Allah ta’ala, atau mereka menganggap bahwa hukum Allah ta’ala itu sudah tidak pantas, barbar, kejam, dan sebagainya. Maka orang ini hukumnya telah kafir dan keluar dari Islam. Allah ta’ala berfirman :

يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوٓا۟ إِلَى ٱلطَّٰغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوٓا۟ أَن يَكْفُرُوا۟ بِهِ

“Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu” (QS. AN NISAA’ 60).
Masuk dalam jenis ini adalah orang yang rela dan ridha dengan hukum selain Allah ta’ala, maka hukumnya kafir, Allah ta’ala berfirman :
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰفِرُونَ
“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. AL MAA-IDAH 44)
ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (QS. AT TAUBAH 31)

Katagori kedua adalah orang yang meyakini bahwa hokum Allah ta’ala lebih baik dari hukum buatan manusia, akan tetapi ia menggunakan hukum selain Allah ta’ala karena syahwat, takut ancaman manusia, kebodohan, jenis ini tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam namun ia telah terjatuh kedalam syirik kecil dan inilah yang paling banyak terjadi di kalangan para pemimpin kaum muslimin saat ini.

Kesebelas, شرك المحبة “Syirik mahabbah/cinta” yaitu seseorang mencintai selain Allah ta’ala sama seperti mencinta Allah ta’ala atau lebih mencintai selain-Nya. Allah ta’ala berfirman :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah” (Al-Baqarah 165).
Keduabelas شرك الخوف والخشية “Syirik khauf dan khosyyah” ada pembahasan di tulisan lain Insya Allah ada penjelasan tersendiri.

Ketigabelas شرك القصد والإرادة “Syirik tujuan dan keinginan” yaitu seseorang meniatkan perbuatan amal shalihnya untuk selain Allah ta’ala, tujuannya bukan mengharapkan wajah dan keridhaan Allah ta’ala.

Al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahuta’ala mengatakan : “Adapun syirik niat bagaikan lautan yang tak bertepi/pantai dan sedikit sekali orang yang selamat dari kesyirikan jenis ini, maka barangsiapa yang tujuan dari amal shalihnya selain Allah ta’ala dan memaksudkan sesuatu selain taqarub kepada-Nya, dan mengharapkan balasan dari amalnya dari selain-Nya maka sungguh ia terjatuh dalam kesyirikan jenis ini”.

Ke empatbelas شرك الطاعة “syirik ketaatan” yaitu seorang hamba mentaati orang lain dalam hal menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Allah ta’ala berfirman :

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (QS. At-Taubah 31).

Syirik dalam masalah ketaatan dibagi dalam dua macam :

Pertama, mentaati selain Allah ta’ala dalam kemaksiatan kepada Allah ta’ala dan hatinya ridha dibarengi dengan perasaan bahwa ketaatan ini lebih bermanfaat atau didahulukan daripada ketaatan kepada Allah ta’ala maka ini hukumnya syirik akbar.

Kedua, mentaati selain Allah ta’ala dikarenakan dorongan syahwat atau demi mengejar dunia maka hukumnya tidak syirik akbar namun ia telah terjatuh ke dalam kefasikan dan dosa besar.

Semoga tulisan ini menjadi ladang amal shalih bagi ana dan orang yang ikut serta dalam selesainya tulisan ini dan memberikan ilmu yang bermanfaat bagi ana, antum semua yang membacanya. Amin

 

Tags:

Tafsir Surat Al-Baqarah 282 : Adab dan Akhlak dalam berhutang

DebtBismillah Assalamualaikum……!
Saudaraku kaum Muslimin, Insya Allah pada tulisan kali ini kita akan membahas tafsir surat Al-Baqarah ayat 282.

Ana berdo’a semoga tulisan singkat ini menjadi pahala bagi ana dan antum semua yang membacanya. Disaat bumi menjadi saksi, disaat catatan amal ditampakan, disaat mulut terkunci dan tangan, kaki, kulit bersaksi atas diri kita, disaat harta tidak berguna, disaat jabatan dan anak tidak bisa membela kita, kecuali amalan shalih yang kita bawa.

Saudaraku Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأخْرَى وَلا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلا تَرْتَابُوا إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah 282).

Ketahuilah wahai saudaraku yang ana cintai karena Allah ta’ala bahwasanya harta merupakan penopang kegiatan dan kehidupan dunia, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan” (QS. An-Nisa ayat 5)

Saudaraku
Ketika Allah ta’ala melarang kita untuk menyerahkan harta kepada orang yang belum sempurna akalnya seperti wanita, anak kecil dan orang-orang yang lemah akalnya yang tidak tahu dan bodoh dalam hal cara membelanjakan harta, maka apabila kita telah paham hal ini maka alangkah baiknya dan selayaknya kita membahas ayat-ayat yang berkaitan dengan hutang piutang. Yuk kita belajar bersama dan simak terus tulisan ini.

Ada beberapa hukum/faidah yang kita bisa ambil dari ayat ini berkaitan dengan hutang piutang

Pertama, hutang piutang disyariatkan untuk ditulis jika hutang piutang itu lebih dari 3 hari (pembayarannya) dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya”

Kedua, disyariatkannya atau dihalalkannya jual beli salam dalilnya jual beli ini إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى “¬untuk waktu yang ditentukan” namun dalam jual beli ini harus memenuhi syarat di mana jual beli mensyaratkan waktu dan takarannya harus ma’lum atau diketahui, sebagai mana sabda Rasulullah Shalallahualaihiwassalam:
من أسلف في تمر فليسلف في كيل معلوم ووزن معلوم إلى أجل معلوم
“Barangsiapa yang menghutangi tamr, maka hendaklah hutang tersebut timbangan dan waktunya jelas” (HR. Muslim 1604 Shahih Ibnu Majah 2271).

Ketiga, pihak penulis hutang-piutang hendaklah orang yang adil (benar) sehingga ia dalam menuliskannya tidak menambah dan tidak mengurangi sebagai mana firman-Nya :

فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

“Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar”

Keempat, hendaklah seseorang yang punya kemampuan menulis agar rela hatinya dan mau untuk menjadi juru tulis ketika di minta dan hal ini sebagai bentuk rasa syukur di kepada Allah ta’ala yang telah mengajarkan dan memberi kemampuan kepadanya untuk menulis. Allah ta’ala berfirman :

وَلا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ

“Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis”

Kelima, hendaklah orang yang berhutang mendiktekan utangnya kemudian ditulis oleh penulis sebagai bentuk pengenalannya dan takrir atas utangnya sebagaimana firman-Nya وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ “dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu)” dan ia dilarang untuk mengurangi jumlah utang yang ia miliki, dan ini merupakan tanda orang yang bertakwa (khususnya dalam masalah utang piutang), Allah ta’ala berfirman وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا “dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada utangnya”.

Keenam, jika yang berutang itu lemah (akalnya dll) dan ia tidak sanggup untuk mendiktekannya, maka walinya yang menggantikannya dan ia jangan mengurangi utangnya tersebut.

Ketujuh, disyariatkan adanya dua saksi laki-laki ketika penulisan utang piutang, jika tidak ada maka bisa diganti dengan satu laki-laki dan dua orang perempuan.

Kedelapan, diharamkannya seseorang untuk tidak memberikan kesaksian (jika memang ia sebagai saksi) dalam perkara utang piutang ketika ia dipanggil untuk bersaksi, hal ini sebagaimana firman-Nya وَلا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا “Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil”.

Kesembilan, anjuran untuk tetap menulis utang piutang baik itu skalanya kecil apalagi skala (jumlahnya) besar hal ini sebagaimana firman-Nya وَلا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا “dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar”.

Kesepuluh, tidak ada kewajiban untuk tidak menulis perjanjian atau kesepakatan jual beli yang dilakukan dengan cara cash.

Kesebelas, wajibnya penjual dan pembeli hadir dalam jual beli cash.

Kedua belas, larangan bagi para saksi untuk saling menyulitkan (baik tempat atau waktu).

Ketiga belas, bertakwalah kepada Allah ta’ala yang telah mengajarkan dan menunjukan kepada manusia segala sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akherat mereka, salah satunya dalam perkara akhlak dan adab hutang piutang yang dijelaskan dalam ayat ini.

Semoga tulisan ini menjadi ladang amal shalih bagi ana dan orang yang ikut serta dalam selesainya tulisan ini dan memberikan ilmu yang bermanfaat bagi ana, antum semua yang membacanya. Amin

 

Tags: