RSS

Kitab Thaharah Bag. Lima

31 Dec

ThaharahBismillah Assalamualikum Wahai Saudaraku kaum muslimin dimana saja berada, mari kita lanjutkan belajarnya dan semoga tulisan menjadi wasilah mendapatkan ilmu yang bermanfaat, lalu diamalkan dan disebarkan ke seluruh manusia yang sedang mencari cara beragama yang benar.

Sebelumnya ana minta maaf kepada pembaca semua, sebab sudah lama tulisan berseri ini tidak dilanjutkan, itu karena kesibukan baik di sekolah maupun dalam menyelesaikan tugas akhir ana, semoga Allah ta’ala memudahkan semua urusan kita. Dan tulisan inipun ana tulis hari ini (ahad 30-12-2012) dikarenakan ana tidak jadi pergi ke Al-Mubarak untuk kajian yang qodarullah ana sudah sampai Singaparna namun ada telepon dari rumah bahwa anak ana yang kecil kena step, namun alhamdulillah sudah baikan.

Pembahasan kita yang kemarin adalah membahas macam-macam air suci, terakhir kita membahas air suci jenis yang kelima yaitu air zam-zam. Sekarang kita masuk ke jenis lainnya so don’t miss it.
KEENAM, Air yang berubah rasa dan warnanya dikarenakan lamanya didiamkan atau berubah karena bercampur dengan sesuatu yang suci yang tidak mungkin untuk terhindar daripadanya seperti lumut, dedaunan, sabun, dan debu.

Begitu juga berubah dikarenakan air tersebut disimpan dibejana baik yang terbuat dari kulit, tembaga, kuningan dll. Maka perubahan air tersebut tidak mengapa selama air tersebut tidak keluar dari kemutlakan air. Diantara dalilnya adalah :

Pertama, Hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Athiyah Rhadiyallahuanha dimana ia berkata “Rasulullah shalallahualaihiwasalam mendatangi kami ketika putri beliau shalallahualaihiwasalam wafat (sedang dimandikan), kemudian beliau shalallahualaihiwasalam berkata :
اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا, أَوْ خَمْسًا, أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ, بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا, أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ”، فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ, فَأَلْقَى إِلَيْنَا حِقْوَهُ.فَقَالَ: “أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ.

“Mandikanlah tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu. Jika kamu pandang perlu pakailah air dan bidara, dan pada yang terakhir kali dengan kapur barus (campuran dari kapur barus dan air).” Ketika kami telah selesai, kami beritahukan beliau, lalu beliau memberikan kainnya pada kami seraya bersabda: “Bungkuslah ia dengan kain ini.”(HR. Bukhari 1253 dan Muslim 939).

Kedua, Hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Hani Rhadiyallahuanha dimana ia berkata:
اغْتَسَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَمَيْمُونَةُ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ قَصْعَةٍ فِيهَا أَثَرُ الْعَجِينِ
“Rasulullah Shalallahualaihiwasalam dan Maimunah Rhadiyallahuanha mandi dari satu bejana yang di dalam bejana tersebut ada bekas adonan” (Shahih Sunan An-Nasai 234 dan Shahih Sunan Ibnu Majah 303).

Imam Ibnu Hajm Rahimahullah berkata : “Semua air yang tercampur dengan air tersebut sesuatu yang suci/mubah, dan terasa campuran tersebut dari warnanya, baunya dan rasanya, selama tidak mengeluarkan campuran tersebut dari kemutlakan air maka berwudhu dan mandi besar dengannya adalah boleh”.

Bersambung Insya Allah…..!
Dan sebagai penutup dari tulisan ini, ana berdo’a semoga dalam menulis pembahasan ini ditujukan hanya semata-mata untuk Allah ta’ala dan semoga Allah ta’ala memberikan pahala bagi penulis, pembaca, yang menshare tulisan ini dengan pahala yang berlipat ganda. Amin….!

 
Leave a comment

Posted by on 31 December 2012 in Tak Berkategori

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: