RSS

Syarah Hadits Arbain no 11

02 Oct

عن أبي محمدٍ الحسن بن عليّ بن أبي طالب، سِبْطِ رسول الله اليقينوريحانته رضي الله عنهما، قال: حفظتُ من رسول الله r: «دع ما يريبك إلى ما لا يربيك». رواه الترمذي والنسائي، وقال الترمذي: حديثٌ حسنٌ صحيحٌ.

Dari Abu Muhammad Hasan Bin Ali Rhadiyallahuanhuma Cucu dan penyejuk Rasulullah shallahualaihi wassalam ia berkata : Aku menghafal dari Rasulullah Shalallahualaihiwasalam :”Tinggalkanlah yang meragukanmu beralihlah kepada yang tidak meraguganmu ( (HR. Imam At-Turmudzi dan Beliau berkata hadist hasan shahih dan hadits ini dishahihkan oleh Syeikh Al-Bani dalam Shahihul Jami no 3372).

a. Kedudukan Hadits
Hadits ini merupakan salah satu kaidah pokok dari kaidah-kaidah ushul dalam agama Islam, yaitu : “Mengambil segala perkara yang meyakinkan dan meninggalkan perkara-perkara yang syubhat “belum jelas hukumnya”.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami pernah mengatakan :”Hadits ini merupakan salah satu kaidah yang agung dari kaidah-kaidah agama, Kaidah dalam sikap wara yang mana disitulah poros sifat-sifat orang yang bertakwa, Penyelamat dari kegelapan syak dan wahm yang memadamkan cahaya yakin.

b. Menjauhi Syubhat
Kalimat «دع ما يريبك إلى ما لا يربيك» “Tinggalkanlah yang meragukanmu beralihlah kepada yang tidak meraguganmu”

Inti dari kalimat ini adalah Menjauhi Syubhat

Dalam hadits ini Rasulullah Shalallahualaihiwasalam memerintahkan kita untuk menjauhi segala perkara yang masih kita ragukan (baca: hukumnya) dan memerintahkan untuk mengambil segala perkara yang meyakinkan (baca : hukumnya).
Dengan sifat ini maka seorang muslim telah memelihara kehormatan dirinya, Dengan sifat ini seorang muslim telah memelihara dirinya dari terjatuh kepada segala perkara yang diharamkan Allah ta’ala.

Dengan sifat ini hati seorang muslim akan tenang dari kegelisahan dan keguncangan, sebab perkara yang syubhat merupakan sebab yang menjadikan hati gelisah, risau atau galau.

Sifat ini akan membawa kepada sifat wara (secara sederhana wara adalah tidak tertarik dengan perkara yang syubhat) dimana sifat wara ini merupakan perkara yang bisa menutup rapat-rapat was-was syaithan yang akan membawa faidah-faidah yang sangat besar baik di dunia atau di akherat.

Contoh siafat wara kaum salaf :
Kaum salafushalih mereka berusaha untuk berakhlak atau berkarakter dengan karakter isalam, baik yang sifatnya wajib atau sunnah. Berikut ini merupakan beberapa contoh akhlak salaf yang merupakan cerminan dari atsar atau pengaruh dari nash-nash al-Qur’an dan sunnah dalam kehidupan mereka (hanya sifat wara “disesuaikan dengan pembahasan kita”).

Dari Aisayah Rhadiyallahuanha, ia berkata : Bahwasanya abu bakar rhadiallahuanhu memiliki seorang pembantu yang setiap harinya menyiapkan dan memberuikan makanan untuk beliau (biasanya beliau bertanya tentang asal usul makanan yang diberikan pembantunya). Namun pada suatu hari beliau langsung menyantapnya dan tanpa bertanya tentang asal usulnya, setelah makanan tersebut di makan, maka pembantunya bertanya “Apakah anda tahu asal-usul makanan ini?” maka abu bakar menjawab, “tidak, memang darimana makanan ini? Pembantunya menjawab: “Dulu aku diminta untuk meramal seseorang / aku meramal seseorang dimasa jahiliyah sedangkan aku hanya menipunya (tidak bisa meramal), dan tadi aku bertemu dengannya dan ia memberikan makanan (sebagai upah) yang engkau makan tadi. Maka setelah mendengar itu Abu Bakar rhadiyallahuanhu memasukan tangannya kemulutnya dan memuntahkan semua yang ada diperutnya. (HR. Bukhari 4/236).

Saudaraku lihatlah sikap wara sahabat yang mulia ini, beliau tidak hanya memuntahkan makanan yang baru beliau makan, tapi semua yang ada diperuttnya, kenapa sebab ketika halal-haram bercampur menjadi syubhat dan ini sesuai dengan perintah dari hadits yang sedang kita bahas.

Dari Nafi’ bahwasanya Umar bin Khatab rhadiyallahuanhu memberikan tunjangan kepada kaum muhajirin sebanyak 4000 (tidak disebutkan apakah dinar/dirham) namun beliau memberikan anaknya abdullah bin umar rhadiyallahuanhuma sebanyak 3.500. Maka ada yang berkata kepada beliau :”Abdullah juga bagian dari muhajirin, kenapa engakau mengurangi jatahnya?” maka Umar bin khattab menjawab: “ia berhijrah bersama bapaknya (mengikuti bapaknya) dan ia berbeda dengan orang yang berhijrah sendirian. (HR. Bukhari 3/261)

Yazid bin Zari’ mendapatkan warisan dari bapaknya sebanyak 500.000 dinar/dirham, namun ia tidak mengambil sedikitpun harta warisan tersebut. Hal ini disebabkan ayahnya adalah seorang pembantu atau bendaraha para raja (tidak disebutkan berapa orang raja). Sedangkan Yazid bekerja sebagai penjual pelepah kurma dan ia makan dari hasil pekerjaannya ini sampai ia meninggal (Jami’ul Ulum Wal Hikam Imam Ibnu Rajab hal 102).

Meninggalkan Perkara yang diperselisihkan oleh para ulama “terkadang” tidak menunjukan sikap wara.

Sikap seseorang keluar atau meninggalkan perkara yang diperselisihkan para ulama tidaklah selamanya dibenarkan dengan alasan wara, misalnya dalam perkara yang di dalamnya ada keringanan dan tidak ada yang menentangnya. Maka mengikuti rukhsah lebih didahulukan dari pada meninggalkannya. Misalnya kita yakin dalam keadaan suci dan muncul syak (batalnya wudhu) maka janganlah dengan alasan wara (hati-hati) kita mendahulukan syak dengan keluar dari shalat dan berwudhu kembali, makanya Rasulullah Shalallahualaihiwasalam mengatakan :
فلا ينصرف حتى يسمع صوتا أو يجد ريحا
Janganlah kalian membatalkan shalatnya sampai kalian mendengar suara kentut atau mencium baunya (Mukhtashar Shahih Bukhri 46 dan Mukhtashar Shahih Muslim 48 oleh Syeikh Al-Bani).

NB : Hadits ini tidak berlaku dalam keadaan menahan kentut atau kencing ya…..hehehe
Adapun sikap wara dari perkara yang diperselisihkan yang dibenarkan ialah hanya dalam perkara yang sangat sulit dimana seseorang tidak sanggup untuk mentarjih mana yang lebih sesuai dengan al-haq “kebenaran.

Wara merupakan sifat orang yang istiqomah

Sikap wara merupakan sifat seseorang yang istiqomah (mengistiqomahkan jiwanya) dengan melaksanakan semua perkara yang wajib dan meninggalkan semua perkara yang dilarang. Adapun orang yang terjerumus kedalam dosa-dosa besar dan meninggalkan perkara-perkara yang wajib, kemudian orang ini berusaha untuk meninggalkan perkara-perkara yang syubhat maka ini merupakan sifat wara yang salah (sifat wara yang tidak pada tempatnya).

Ibnu Umar rhadiyallahuanhuma pernah mengingkari kepada orang yang bertanya kepadanya berkaitan tentang hukum membunuh nyamuk, maka beliau berkata : “Kalian bertanya kepadaku tentang darah nyamuk sedangkan kalian telah membunuh husain padahal aku pernah mendengar Nabi Shalallahualaihiwasalam mengatakan tentang husain “mereka berdua (hasan dan husain) adalah penyejuk hatiku dari ahli dunia”.

Imam Basyar bi Harist rahimahullah pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang memiliki seorang isteri dan ibunya memintanya untuk meceraikannya, maka beliau menjawab : “Jika ia adalah orang yang berbuat baik kepada ibunya dalam semua perkara dan tidak tersisa lagi “dalam berbaktinya” kecuali dengan menceraikan isterinya, maka lakukanlah, namun jika ia menganggap bahwa menceraikan isterinya merupakan bentuk berbaktinya kepada ibunya, namun setelah menceraikan istrinya malah memukul ibunya (berlaku kasar) maka janganlah melakukannya”.

 
Leave a comment

Posted by on 2 October 2013 in Aqidah, Fiqih

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: