RSS

11 Amalanlan Meluluhkan Hati

28 Nov

مفتاح القلبBismillah Saudaraku Ikhwan dan akhwat semua, tulisan ini ana tulis berawal pada hari ini Sabtu tanggal 14 Dzulhijah 1434 H atau 19 Oktober 2013 ana membuka-buka maktabah syamilah dan mata ini tertuju pada sebuah judul kitab 11 وسيلة للتأثير على القلوب yang ana terjemahkan menjadi 11 Wasilah untuk meluluhkan hati. Ana berdo’a semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis aslinya dan kita semua.

Semoga dengan tulisan ini hati kita bisa bersih dan tenang dan bisa menempuh hidup di dunia dan akherat dengan penuh kebahagiaan.

Wasilah pertama adalah الابتسامة “Tersenyumlah”
Saudaraku senyum merupakan amalan yang mudah dan ringan namun bernilai ibadah dan memiliki pahala yang besar, Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah mengatakan :

تَبَسُّمُكَ في وَجْهِ أخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Tersenyum di hadapan saudaramu adalah sedekah”

Abdullah bin Harist رضي الله عنه pernah mengatakan :

ما رأيت أحداً أكثر تبسماً من رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah صلى الله عليه وسلم”.

Maka saudaraku marilah kita mulai dari sekarang murahlah tersenyum kepada orang lain, sebab hidup tanpa senyuman bagaikan sayur tanpa garam sehingga rasanya menjadi hambar.

Sebagai referensi tambahan ada kajian pendek yang membahas senyum yang disampaikan oleh Ust. Aris Munandar (semoga Allah menjaga beliau) dengan judul “Gigimu bukan aurat” silahkan search di youtube.

Wasilah kedua adalah البدء بالسلام “memulai untuk mengucapkan salam”

Bermuka masam ketika bertemu merupakan salah satu sebab kesedihan hati dan yang terbaik dilakukan adalah berseri-seri ketika bertemu orang lain, bersikap hangat ketika bertemu orang lain, perbuatan ini merupakan salah satu ibadah dan ghanimah yang agung.

Wahai saudaraku, ketika seseorang berpahala ketika bertemu dan berinteraksi dengan orang lain melalui wajah yang berseri-seri maka yang terbaik diantara mereka adalah orang yang pertama kali mengucapkan salam.

Umar An-Nadii رحمه الله pernah mengatakan :

خرجت مع ابن عمر فما لقي صغيراً ولا كبيراً إلا سلم عليه

“aku keluar bersama ibnu umar maka tidaklah beliau bertemu dengan anak kecil atau orang dewasa kecuali beliau mengucapkan salam kepadanya”

Imam Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah mengatakan :

المصافحة تزيد في المودة

“Berjabat tangan (Dengan wajah berseri-seri tentunya) menambah rasa cinta dan kasih sayang”
Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم mengatakan :

لا تحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طليق

“Janganlah kalian meremehkan sebuah kebaikan sekecil apapun, meskipun kalian bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri”.

Maka saudaraku ikwan dan akhwat mari kita mulai untuk memasang wajah yang berseri-seri ketika bertemu dengan saudara kita kaum muslimin. Insya Allah bersambung.

Wasilah ketiga : Saling memberi hadiah
Saling memberi hadiah memiliki pengaruh yang sangat ajaib yang dapat berkesan keseluruh jiwa dan raga yang diberi hadiah. Ketika dinasehati ia akan menggunakan pendengarannya dengan sebaik mungkin, Pandangannya dengan semaksimal mungkin dan yang utama hatinya akan luluh dan ikut dengan nasihat yang diberikan.

Ketika mayoritas manusia saling memberikan hadiah yang sesuai dengan kemampuan, maka hal ini tidak hanya terpuji namun merupakan sebuah ibadah yang agung yang akan menimbulkan perasaan saling mencintai dan menghilangkan kedengkian. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

“Saling menghadiahilah kalian niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 594, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Irwa`ul Ghalil no. 1601)

تَهَادُوْا، فَإِنَّ الْهَدِيَّةَ تَُذْهِبُ بِالسَّخِيمَةِ

“Saling menghadiahilah kalian karena sesungguhnya hadiah itu akan mencabut/menghilangkan kedengkian.” (HR. Ibnu Mandah, lihat pembahasannya dalam Irwa`ul Ghalil, 6/45, 46).
Maka saudaraku ikwan dan akhwat mari kita mulai untuk berseri-seri ketika bertemu, memulai mengucapkan salam, dan mulailah untuk memberi hadiah..

Wasilah yang keempat adalah الصمت وقلة الكلام إلا فيما ينفع Banyak diam dan sedikit berbicara kecuali dalam hal yang bermanfaat.

Wahai saudaraku hendaklah kita tidak meninggikan suara dan banyak berbicara ketika kita berada dalam satu majelis, dan jika kita menjadi pemimpin dalam suatu majelis hendaklah kita menggunakan kata-kata yang indah dan baik, sebagaimana dikatakan dalam sebuah pribahasa :

فالكلمة الطيبة صدقة

“Perkataan yang baik adalah sedekah”

Saudaraku Ikhwan dan Akhwat banyak diam dan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat memiliki pengaruh yang menakjubkan terutama dalam hal melembutkan hati, bahkan dapat berpengaruh untuk melembutkan hati musuh-musuh kita (yang membenci kita).

Saudaraku jika seandainya orang yang membenci kita saja bisa lembut hatinya karena kita memperbanyak diam dan sedikit berbicara kecuali dalam hal yang bermanfaat apalagi hal itu kita lakukan terhadap saudara kita, anak kita, dan saudara kita seagama.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dikisahkan bahwa ada seorang Yahudi yang mendoakan kecelakaan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم maka Aisyah رضي الله عنها marah dan mengucapkan :

وعليكم السام واللعنة

“Dan bagi engkau kecelakaan dan laknat”

Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan :

مهلاً يا عائشة فإن الله يحب الرفق في الأمر كله

“Tenanglah wahai Aisyah sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam setiap perkara”

Dari Anas رضي الله عنه mengatakan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertemu Abu Dzar lalu beliau صلى الله عليه وسلم mengatakan : Wahai Abu Dzar maukah aku tunjukan dua hal yang mana keduanya ringan untuk dilaksanakan namun berat ditimbangan? Abu Dzar menjawab : mau wahai Rasulullah, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan :

عَلَيْكَ بِحُسْنِ الْخُلُقِ وَطُولِ الصَّمْتِ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا تجمل الْخَلاَئِقُ بِمِثْلِهِمَا

“Hendaklah Engkau berakhlak mulia dan lebih banyak diam, demi jiwaku yang berada ditangan-Nya tidaklah makhluk itu menjadi Indah seperti keindahan bila dihiasi oleh kedua sifat ini”. (HR. Imam thabrani, Abu Ya’la, Albazar dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Bani dalam Shahih Al-Jami’ no 4048)

Wasilah yang kelima adalah حسن الاستماع وأدب الإنصات (Baik dalam mendengarkan/lebih banyak mendengar dan baik dalam menjawab panggilan)

Saudaraku yang baik hati, sikap untuk tidak memotong pembicaraan orang lain sungguh merupakan sikap yang terpuji dan mulia. Dan sungguh Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak pernah memotong pembicaraan orang lain sampai orang tersebut yang menghentikan pembicaraannya.

Maka saudaraku ikhwan dan Akhwat yang baik hati, barang siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh (Berjihad) untuk berusaha bersikap seperti ini maka niscaya kita dicintai oleh kawan bahkan lawan.

Saudaraku ikhwan dan akhwat yang baik hati, lihatlah akhlak seorang ulama yang benama Imam atha rahimahullah yang pernah mengatakan :

إن الرجل ليحدثني بالحديث فأنصت له كأني لم أسمعه وقد سمعته قبل أن يول

“Sungguh ada seorang yang bercerita kepadaku tentang sesuatu, maka aku diam mendengarkan dengan sungguh-sungguh seperti aku belum pernah mendengarnya, padahal aku mendengar dan mengetahui cerita itu sebelum orang tersebut dilahirkan.”

Wasilah keenam حسن السمت والمظهر “Penampilan yang indah (Pakaian, minyak wangi, dll”).

Saudaraku penampilan, berpakaian yang indah (rapi), dan memakai minyak wangi. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah berkata :

إن الله جميل يحب الجمال

“Sesungguhnya Allah تعالى maha indah dan mencintai keindahan” (HR. Muslim)

Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah mengatakan :

إنه ليعجبني الشاب الناسك نظيف الثوب طيب الريح

“Sungguh sangat menakjubkan seorang pemuda yang bersih pakaiannya dan wangi tubuhnya”.

Imam Abdullah bin Ahmad bin Hambal Rahimahumallah pernah mengatakan :

إني ما رأيت أحداً أنظف ثوبا و لا أشد تعهدا لنفسه وشاربه وشعر رأسه وشعر بدنه، ولا أنقى ثوبا وأشده بياضا من أحمد ابن حنبل

“Sungguh aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih bersih pakaiannya dan yang lebih sungguh-sungguh memperhatikan dirinya (dalam memelihara sunnah-sunnah fitrah seperti memotong kumis, bulu kemaluan, bulu ketiak-pent) dan menjaga pakaian agar tetep putih dan bersih sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hambal”.

Wasilah ke tujuh بذل المعروف وقضاء الحوائج “Mendermakan/berbagi kebaikan yang kita miliki dan memenuhi hajat-hajat orang lain”.

Saudaraku ikhwan dan akhwat sikap ini memiliki dampak yang menakjubkan, bahkan kita akan mampu “menguasai/memiliki” hati orang yang kita lakukan dengan sikap ini, sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair :

أحسن إلى الناس تستعبد قلوبهم

Berbuat baiklah kepada semua manusi niscaya engkau akan mempu menundukan hati mereka

Saudaraku ikhwan dan akhwat, tapi tujuan kita bersikap seperti ini janganlah hanya ingin menundukan hati orang lain atau agar dicintai orang lain saja, tapi landasan kita adalah firman Allah ta’ala :

وأحسنوا إن الله يحب المحسنين

“dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik ” (QS. Al-Baqoroh 195).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan :

أحبُ الناس إلى الله أنفعهم للناس

“Manusia yang paling dicintai Allah ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. (Silsilah Hadits As-Shahihah no 906).

Wasilah kedelapan بذل المال “Berkurban harta/mendermakan harta untuk orang lain”.

Saudaraku Ikhwan dan akhwat yang baik hati, ketahuilah bahwasanya setiap hati memiliki kunci pembukanya, dan sungguh harta merupakan salah satu kunci pembuka hati yang paling ampuh terutama di zaman kita saat ini. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah berkata :

إِنِّى لأعْطِى الرَّجُلَ ، وَغَيْرُهُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْهُ ، خَشْيَةَ أَنْ يَكُبَّهُ اللَّهُ فِى النَّارِ

“sesungguhnya aku memberi kepada seseorang, padahal ada orang lain yg lebih aku cintai dari pada dia, disebabkan karena rasa takutku jika ia ditenggelamkan kedalam neraka” (HR. Bukhari no 9).

Saudaraku Ikhwan dan akhwat maksud hadits ini adalah bahwasanya terkadang seorang memberi orang lain bukan karena mencintai orang yang diberi, namun dikarenakan mencintai perbuatan tersebut (ibadah) dan dalam hadits ini Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjelaskan alasannya yaitu ketakutan beliau bahwasanya orang tersebut tenggelam din neraka, sehingga dengan diberinya harta semoga bisa membuka hatinya untuk masuk Islam.

Saudaraku Ikhwan dan akhwat yang ana cintai karena Allah ta’ala perhatikanlah kisah di bawah ini :
Pada saat pembebasan Makkah Sofwan bin Umayah رضي الله عنه lari keluar dari Makkah dikarenakan takut kepada kaum muslimin dimana ia sebelum fathu Mekkah merupakan orang yang paling keras memusuhi kaum muslimin, membuat makar dan berusaha membunuh Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengumumkan dan menjamin akan keamanan ia, lalu ia kembali ke Mekkah dan menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم, lalu ia meminta kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم waktu dua bulan untuk ia berfikir dan menimbang-nimbang untuk masuk Islam atau tidak, namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan bagimu aku kasih waktu kurang lebih 4 bulan.

Pada suatu hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم keluar bersama Sofwan bin Umayah رضي الله عنه ke Hunain dan Thaif untuk melakukan pengepungan (Pada saat itu thaif dan Hunain masih kafir). Pada saat itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat Sofwan bin Umayah رضي الله عنه melihat (terpikat) oleh satu lembah yang penuh dengan binatang ternak dan ada pengembalanya.

Lalu Rasulullah memandang Sofwan bin Umayah رضي الله عنه sambil mengatakan apakah engkau menyukainya wahai Abu Wahab? Ia wahai Rasulullah, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan lembah tersebut dan isinya aku berikan buat engkau.

Maka saat itu Sofwan bin Umayah رضي الله عنه mengatakan tidak ada satu jiwapun yang lebih berbahagia seperti kebahagian yang aku rasakan kecuali Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika aku mengatakan dua kalimat syahadat.

Sungguh wahai saudaraku Ikhwan dan Akhwat kekasih kita صلى الله عليه وسلم mampu menyentuh hati Sofwan bin Umayah رضي الله عنه dengan berbuat seperti ini, maka perbutan Rasulullah صلى الله عليه وسلم langsung mengena ke hati setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengenal kunci pembuka hati..!

Maka saudaraku ikhwan dan akhwat marilah kita intropeksi dan bertanya pada diri ini :

Sampai kapankah kita kikir dan bakhil ? Sampai kapankah kita menahan (untuk tidak berbuat) hal ini padahal hal ini memiliki dampak yang menakjubkan bagi sebagian manusia? Sampai kapankah kita merasa bahwa kefakiran dan kemiskinan ada dikelopak mata kita ketika kita mau berinfak untuk orang lain?

Wasilah ke sembilan إحسان الظن بالآخرين والاعتذار لهم “Berprasangka baik kepada orang lain dan memberikan udzur pada mereka”.

Wahai saudaraku ikhwan dan akhwat yang baik hati, sungguh aku (penulis) belum menemukan satu wasilah dan cara yang lebih mudah dan utama yang bisa sampai ke hati yang palig dalam sekalipun selain sikap ini.

Saudaraku berprasangka baiklah kepada orang di sekitar kita dan berhati-hatilah dengan sikap berprasangka negatif pada orang lain dan tahanlah mata kita untuk mengintai saudara kita baik dalam keadaan diam maupun bergerak (sebagai akibat berprasangka negatif).

Saudaraku adapun sikap memberi udzur kepada orang lain hendaklah kita tanamkan dalam jiwa kita, sbb ini merupakan sikap turunan dari sikap berprasangka baik, dan tidak bersikap seperti ini sebagai akibat berprasangka buruk kepada orang lain.

Saudaraku Ikhwan dan Akhwat yang baik hati catatlah perkataan Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berikut dengan tinta emas :

المؤمن يطلب معاذير إخوانه، والمنافق يطلب عثراتهم

“Seorang mukmin adalah orang yang berusaha mencari udzur dari saudaranya, sedangkan seorang munafik adalah orang yang mencari-cari kesalahan saudaranya”

Wasilah yang kesepuluh أعلن المحبة والمودة للآخرين “Mengumumkan/menyatakan langsung rasa kasih dan sayang / cinta kepada orang yang kita cintai”

Saudaraku Ikhwan dan Akhwat yang baik hati, jika kita mencintai seseorang (baca karena Allah), atau orang tersebut memiliki kedudukan khusus dalam hati kita maka beritahukanlah langsung kepada orang tersebut, sesungguhnya hal ini merupakan “anak panah” yang bisa masuk kedalam hati dan mampu untuk melembutkan jiwa.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah mengatakan :

إذا أحب أحدكم صاحبه فليأته في منزله فليخبره أنه يحبه

“Jika diantara kalian mencintai saudaranya (karena Allat ta’ala) maka datangilah ia (ketempat tinggalnya) kemudian beritahukanlah bahwasanya kita mencintainya” (Silsilah As-Shahihah 1/703).

Namun saudaraku ingatlah bahwanyanya kita mengkhabarkan bahwa kita mencintai saudara kita ini dengan syarat, apa syaratnya? Syaratnya yaitu harus karena Allah ta’ala bukan demi mendapat secuil dari berbagai perhiasan dunia, atau karena harta, jabatan, ketenaran, kecantikan dan seabreg urusan dunia yang lainnya.

Camkan wahai saudaraku yang ana cintai karena Allah ta’ala bahwasanya kecintaan / persaudaraan yang landasannya bukan karena Allah ta’ala tidak akan bermanfaat bagaikan debu yang berterbangan, dan pada hari kiamat nanti persaudaraan tersebut akan menjadi musuh kita, Allah ta’ala berfirman :

الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa (QS. AZ ZUKHRUF 67).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah mengatakan :

المرء مع من أحب يوم القيامة

“Seseorang akan bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat”

Maka saudaraku menyatakan langsung rasa kasih dan sayang / cinta kepada orang yang kita cintai merupakan salah satu wasilah yang agung untuk meluluhkan hati. Betapa indah jika sebuah masyarakat atau perkumpulan didalamnya penuh dengan kasih sayang, persaudaraan, dan persatuan dan begitu sebaliknya betapa jeleknya jika suatu masyarakat atau perkumpulan penuh dengan kebencian, permusuhan, dan perpecahan.

Maka kita tidak heran betapa semangatnya Rasulullah Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk membangun masyarakat yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang, sehingga Rasulullah صلى الله عليه وسلم mempersaudarakan antara muhajirin dan anshar, sehingga dikenalah si fulan bersaudara dengan si alan dst. Bahkan demi mengikat rasa cinta tersebut Rasulullah صلى الله عليه وسلم memakamkan para sahabat yang syahid dalam peperangan satu lubang bersama saudaranya tersebut.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
“kalian tidak akan masuk syurga sehingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai, maukah aku tunjukan kepada kalian kepada satu amalan yang jika kalian amalkan akan muncul diantara kalian perasaan saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian” (HR. Muslim 203)

NB : DAN MELALUI MEDIA INI ANA UCAPKAN : “ANA MENCINTAI ANTUM SEMUA KARENA ALLAH TA’ALA”

Wasilah yang kesebelas (terakhir) المداراة “berbasa-basi atau bermanis muka”.

Wahai saudaraku ikhwan dan akhwat yang ana cintai karena Allah ta’ala Insya Allah, apakah kita tahu tentang seni berbasa-basi? Apakah kita tahu apa perbedaan antara المداراة dan المداهنة (Mudahanah) ?.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya sebuah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها yang berkata :
أن رجلا استأذن على النبي صلى الله عليه وسلم، فلما راءه قال بئس أخو العشيرة، فلما جلس تطلق النبي صلى الله عليه وسلم في وجهه وانبسط إليه، فلما انطلق الرجل، قالت له عائشة يا رسول الله حين رأيت الرجل قلت كذا وكذا، ثم تطلقت في وجهه وانبسطت إليه، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم، يا عائشة متى عهدتني فاحشاً؟ إن شر الناس عند الله منزلة يوم القيامة من تركه الناس لقاء فحشه.

Ada seorang laki-laki meminta izin kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, ketika Nabi صلى الله عليه وسلم melihatnya bersabda: “Alangkah buruknya saudara qabilah, alangkah buruknya anak lelaki kabilah. Lalu ketika orang tersebut duduk, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tampak cerah wajahnya, dan melonggarkan baginya. Lalu ketika orang itu pergi Aisyah رضي الله عنها bertanya: Ya Rasulullah, Ketika Engkau melihat orang itu Engkau katakan kepadanya, begini-begini, kemudian Engkau berwajah cerah di hadapannya, dan Engkau lapangkan baginya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab: “Ya Aisyah, kapan kamu melihatku berkata kotor? Sesungguhnya manusia paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah orang yang ditinggalkan manusia lain karena takut keburukannya” .

Imam Ibnu Hajar Rahimahullah berkata : Hadits ini merupakan asas bagi sifat المداراة.

Imam Al-Qurtubi Rahimahullah berkata : perbedaan antara المداراة dan المداهنة yaitu : المداراة adalah berbasa-basi untuk mendapatkan kebaikan dunia atau untuk mendapatkan kebaikan akherat (agama) atau untuk mendapatkan kebaikan kedua-duanya dan ini hukumnya boleh bahkan bisa mustahab. Sedangkan المداهنة adalah mengorbankan agama untuk kepentingan dunia.

Saudaraku ikhwan dan akhwat yang ana cintai karena Allah ta’ala Insya Allah, setelah melihat penjelasan di atas kita bisa menyimpulkan bahwa المداراة adalah berkata lembut, berwajah berseri-seri terhadap orang fasik, orang suka berbuat maksiat, orang yang perkataannya kotor.

Apa tujuannya ? para ulama menjelaskan sedikitnya ada dua tujuan. Pertama menghindari diri kita dari kejelekan orang tersebut. Kedua dengan المداراة semoga hal itu menjadi wasilah supaya orang tersebut mendapatkan hidayah namun dengan syarat tidak ada sikap spekulasi/taqiyah/munafiq dalam masalah agama dan hanya dilakukan dalam masalah dunia. Maka jika merusak agama kita maka itu bukanlah المداراة tapi sudah mudahanah (Ana telah bahas masalah mudahanah ketika kajian ahad pagi di Masjid Al-Mubarak Garut dalam ayat وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ Al-Qolam ayat 9).

Semoga bermanfaat……Semoga Ana, Orang tua ana, Saudara ana dan antum semua bisa istiqomah dan wafat dalam keadaan husnul khotimah.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: