RSS

Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 153

30 Mar

Al-Qur'anAssalamulaikum
Segala puji hanya milik Allah ta’ala, dzat yang maha sempurna yang tidak butuh sama sekali kepada siapapun dan apapun, dzat yang sangat mengetahui akan diri kita dibanding diri kita sendiri, sebab Allah ta’ala yang menciptakan kita sehingga Dzat Pencipta jauh lebih mengetahui akan ciptaannya. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Rasulullah Shalallahualaihiwassalam.

Saudaraku Kaum Muslimin
Pada kesempatan ini, Insya Allah kita akan belajar dan membahas tafsir surat Al-Baqarah ayat 153, sebagai rujukan utama ana menggunakan kitab tafsir karya Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi Hafidhahullah Ta’ala yang berjudul نداءات الرحمن لأهل الإيمان “Panggilan Ar-Rahman kepada Orang Beriman”. Semoga bermanfaat dan bisa menambah ilmu, iman dan amal kita semua sebagai bekal bagi kehidupan yang hakiki yaitu kehidupan di akherat kelak. Kita memohon kepada Allah ta’ala semoga penulis dan pembaca tulisan ini bisa berkumpul di syurganya Allah ta’ala. Amin
Saudaraku Kaum Muslimin

Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. 2 : 153)

Saudaraku kaum Muslimin yang ana cintai karena Allah ta’ala :
Sebelum kita melanjutkan tafsir ayat ini, ana mengingatkan dan mengulang kembali perkataan Ibnu Mas’ud رضي الله عنه :
إذا سمعت الله عز وجل يقول { يا أيها الذين آمنوا } فأعرها سمعك فإنه خير يأمر به أو شر ينهي عنه

Jika engkau mendengar Allah ta’ala berfirman “Wahai orang-orang yang beriman” maka dengarkanlah dengan baik, sebab mungkin saja ada sebuah kebaikan yang diperintahkan atau ada sebuah kejelekan yang dilarang untuk melakukannya.

Maka saudaraku yang baik, jika Allah ta’ala memerintahkan sesuatu maka laksanakanlah sekemampuan kita, dan jika Allah ta’ala melarang sesuatu mak tinggalkanlah hal tersebut, jauhilah hal tersebut. Sebab tidaklah hokum Allah ta’ala kecuali di dalamnya mengandung kemaslahatan yang banyak, baik kita ketahui ataupun tidak.

Saudaraku kaum Muslimin, demi Allah….Allah ta’ala memanggil kita dalam ayat ini dengan sebutan “orang-orang yang beriman” dan inilah bentuk/label kemuliaan bagi kita, lalu di manakah kemulian tersebut ????

Saudaraku…..siapakah kita sehingga kita dipanggil oleh Rabb semesta alam, Siapakah kita sehingga Al-Khaliq Al-Malik memanggil kita? Tentu jawabannya karena kita adalah orang yang beriman Insya Allah (dan kita berharap semoga kita masuk dalam ayat seruan ini).

Saudaraku yang ana cintai karena Allah ta’ala, kita mulia karena keimanan kita, Iman kepada Allah, Malaikat, Para Rasul, Kitab, Hari akhir, Takdir. Sesungguhnya keimanan bagaikan ruh bagi jasad, seorang mukmin merupakan kehidupan yang hakiki dan orang kafir merupakan kematian yang hakiki meskipun jasadnya hidup, tapi karena tidak adanya label keimanan pada diri mereka maka hakikatnya adalah mayat-mayat hidup.

Maka Wahai saudaraku kaum muslimin, bersyukurlah, pujilah, sucikanlah Allah ta’ala atas nikmat yang paling agung yang tidak bisa ditukar dengan dunia dan seisinya yang Allah ta’ala anugrahkan kepada kita….yaitu nikmat Iman dan Islam….! Dan berjuanglah dengan modal keimanan ini kita bisa mendapatkan ketakwaan yang sebenar-benarnya takwa yang bisa membawa kita untuk menjadi diantara wali-wali Allah di dunia, resapilah ayat-ayat Allah ta’ala berikut wahai saudaraku :

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ * لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. Yunus 62 – 64).

Wahai saudaraku kaum Muslimin
Apakah engkau memperhatikan siapakah wali-wali Allah ta’ala dalam ayat ini? Sungguh Allah ta’ala sudah menjelaskan bahwa wali-Nya adalah “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. Maka wahai saudaraku semua bermallah dalam mengaplikasikan ketakwaan dan ketahuilah bahwasanya takwa adalah mentaati apa saja yang Allah ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahualaihiwassalam wajibkan atas kita semua baik berupa printah maupun berupa larangan.

Wahai saudaraku kaum Muslimin
Untuk bisa mentaati apa saja yang yang Allah ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahualaihiwassalam wajibkan diawali dengan ILMU berupa pengenalan seorang hamba terhadap apa saja yang diperintahkan dan yang dilarang Allah ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahualaihiwassalam dan ini membutuhkan kesungguhan yang kuat, maka camkanlah saudaraku menuntut ilmu merupakan JIHAD yang besar.

Wahai saudaraku kaum Muslimin
Sebagaimana menuntut ilmu membutuhkan kesungguhan, maka untuk melaksanakan suatu perintah itu membutuhkan kesungguhan yang lebih dari pada menuntut ilmu, sebab dalam melaksanakan suatu perintah membutuhkan lebih banyak pengorbanan dan memberatkan jiwa kita.

Adapun dalam hal meninggalkan sebuah larangan meskipun tidak membutuhkan kesungguhan, tidak menimbulkan kesusahan dan masyaqoh terhadap jiwa, namun jiwa manusia senantiasa memerintahkan kepada perkara yang diharamkan Allah ta’ala.

Maka wahai saudaraku maka dari sini sadarlah kita bahwa seorang mukmin memiliki kebutuhan yang mendesak, kebutuhan yang penting terhadap pertolongan Allah ta’ala dalam merealisasikan takwa sehingga amal perbuatannya berada di atas ilmu dan caranya sesuai dengan yang diminta Allah ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahualaihiwassalam sehingga dapat mensucikan jiwa dan hati kita.

Maka Allah ta’ala menjelaskan dalam ayat yang kita bahas ini jalan dan cara bagaimana kita mendapat pertolongan dalam beribadah kepada Allah ta’ala, diantaranya :

Pertama, mintalah mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar…..apa maksud sabar dalam ayat ini? Para ulama rahimahumullah mengatakan bahwa sabar di sini ada tiga tingkatan pertama sabar dalam memaksa diri untuk menuntut ilmu sehingga kita tahu apa saja yang diperintahkan dan dilarang Allah ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahualaihiwassalam.

Kedua, memaksa jiwa untuk senantiasa melaksanakan ketaatan sesuai dengan apa yang cotohkan yang akan membawa pada kesucian jiwa dan memaksa jiwa untuk senantiasa jauh dari segala keharaman dan kemaksiatan.

Ketiga, sabar untuk melatih jiwa untuk musibah yang ditakdirkan Allah ta’ala atas kita dengan birsikap ridha dan menghindari dari berkeluh kesah dan marah atas takdir tersebut.

Wahai saudaraku kaum Muslimin
Maka jika seseorang telah memiliki kesabaran demikian, maka dengan kesabarannya tersebut akan menolong seorang mukmin dan Allah ta’ala akan bersamanya, menolong dan membantunya.

Kedua, setelah Allah ta’ala memerintahkan untuk meminta pertolongan dengan shalat, dalam ayat ini Allah ta’ala memerintahkan untuk meminta tolong dengan shalat….meminta tolong dengan shalat ialah dengan melaksanakan pada waktunya, menyempurnakan syarat dan rukunnya dan rukun yang paling penting dalam shalat adalah khusu’.

Wahai saudaraku kaum Muslimin
Maka sungguh Rasulullah Shalallahulaihiwassalam telah mengajarkan dan mencontohkan dimana ketika beliau Shalallahulaihiwassalam ketika tertimpa suatu kesusahan maka beliau langsung melaksanakan shalat.

Wahai saudaraku di antara keutamaan ibadah shalat adalah menimbulkan cahaya di dalam hati pelakunya yang tidak lahir dari ibadah selainnya, sedangkan orang yang hatinya bercahaya (bersih) maka akan menjauhkan pemiliknya dari segala perkara yang dimurkai Allah ta’ala baik berupa meninggalkan apa-apa yang diwajibkan atau dengan melaksanakan apa-apa yang dilarang Allah ta’ala da Rasul-Nya Shalallahulaihiwassalam. Maka hal inilah buah dari meminta pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan kita berharap dan memohon kepada Allah ta’ala agar kita termasuk ahli sabar dan ahli shalat.

Sebagai penutup semoga ana, orang tua ana dan semua kaum muslimin bisa masuk syurga firdaus kelak dan diselamatkan dari fitnah dunia…..wallahua’lam.

 
Comments Off on Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 153

Posted by on 30 March 2014 in Aqidah, Fiqih, Tafsir Al-Qur'an, Tafsir Hadits

 

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: