RSS

LIMA JENIS IBADAH

07 Sep

عبادةSaudaraku kaum muslimin yang ana cintai karena Allah ta’ala Insya Allah, Semoga Allah ta’ala menetapkan kita di atas Islam dan Sunnah. Pada kali ini Insya Allah ta’ala kita akan membahas macam-macam Ibadah.

Saudaraku kaum Muslimin :
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mendefinisikan ibadah sebagai :

اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الباطنة والظاهرة

“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir)” (Majmu Fatawa 10/149).

Saudaraku….!
Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 110:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”
Para ulama Rahimahumullah menjelaskan bahwa ayat ini berisi tentang syarat sebuah ibadah, dimana jika syarat sebuah ibadah ini terpenuhi maka ibadah tersebut menjadi ibadah yang diterima dan bermanfaat bagi pelakunya di dunia dan di akherat.

Syarat tersebut adalah perasaan harap (الرجاء) dan takut (الخوف) bagaikan dua sayap bagi sebuah ibadah dan ikhlash dan jauhnya dari syirik merupakan asas pokok dalam ibadah.

Syarat lain sebuah ibadah menjadi sebuah amal yang shalih adalah ibadah tersebut dilaksanakan sebagaimana syariat Allah dan Rasul-Nya, dalam arti jauh dari perbuatan bid’ah yang merupakan salah satu sebab batalnya sebuah ibadah.
Para ulama Rahimahumullah menjelaskan bahwa ibadah itu ada lima macam :

Pertama, Ibadah I’tiqodiyah (عبادة اعتقادية) ibadah ini merupakan amalan-amalan hati seperti mentauhidkan Allah ta’ala dalam ubudiyah yang mencakup di dalamnya mengagungkan-Nya, mencintaiNya, mentaati-Nya, menjauhi syirik dan bid’ah, meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa Allah ta’ala adalah pencipta, pemberi rizki, yang menghidupkan, mematikan, yang mengatur, mengurus semua hambanya sehingga Dialah yang berhak untuk diibadahi dan haram memalingkan ibadah kepada selain-Nya, seperti berdo’a, menyembelih, nadzar, dan sebagainya. Termasuk dalam jenis ibadah ini adalah mensifati Allah ta’ala dengan sifat yang mulia, sifat yang tinggi dan sifat yang sempurna.
Maka saudaraku perhatikanlah apa yang ada di dalam hati-hati kita

Diantara dalil dari jenis Ibadah ini adalah
Rasulullah Shalallahualaihiwassalam bersabda :

إنما الأعمال بالنيات

“Sesungguhnya setiap perbuatan/amalan tergantung niatnya”

إِنَّ اللَّهَ لا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلا أَمْوَالِكُمْ ، وَلَكِنْ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah ta’ala tidak melihat kepada bentuk (rupa) dan harta benda kalian, akan tetapi Allah ta’ala melihat kepada hati dan amalan kalian” (HR. Muslim 2564).

Kedua, Ibadah lafdiyah (عبادة لفظية) ibadah ini merupakan amalan-amalan lisan sepertu ucapan dua kalimat syahadat, membaca al-qur’an, berdo’a, dzikir, mengingkari kemungkaran dengan lisan, memberi peringatan dari syirik dan bid’ah, berda’wah kepada Allah ta’ala dan syariat-Nya, mengajarkan ilmu.
Adapun orang yang memakai lisannya dalam perkara yang bathil maka ia telah menyelisihi jenis ibadah ini dan ia akan menanggung dosa sesuai dengan kadar kesalahannya. Dalil dari ibadah ini adalah sabda Rasulullah Shalallahualaihiwassalam:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam”

Ketiga, Ibadah badaniyah (عبادة بدنية) ibadah ini adalah semua ibadah yang ditegakkan oleh anggota badan yang sesuai dengan syariat, seperti berdiri dalam shalat, ruku, sujud, shaum, haji, hijrah, jihad dan sebagainya. Diantara dalilnya adalah :

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-An’am 162).

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi (Al-Anfal 72)

Keempat, Ibadah harta (عبادة مالية) ibadah ini berupa mengeluarkan (membelanjakan) harta halal dalam kebaikan baik yang sifatnya wajib maupun mustahab seperti zakat, sedekah, wakaf dst. Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka” (At-Taubah 111).

Saudaraku…..perhatikanlah ayat at-taubah di atas dimana di dalamnya disebutkan bahwa diantara sifat seorang mukmin adalah menggunakan dan membelanjakan jiwa dan hartanya dalam segala perkara yang diridhai Allah ta’ala.

Kelima, Ibadah tarkiyah (عبادة تركية) yaitu ibadah yang dilakukan seorang muslim dengan cara meninggalkan semua yang diharamkan, semua bentuk dan jenis syirik dan bid’ah dengan niat melaksanakan perintah Allah ta’ala, maka inilah yang dinamakan ibadah tarkiyah.

Maka sauadaraku ingat dan yakinlah bahwa seorang muslim akan mendapat pahala dan ganjaran yang baik atas ibadah “meninggalkan sesuatu yang dilarang” jika ia meninggalkannya karena Allah ta’ala.
Saudaraku yang ana cintai…….bukankan salah golongan yang mendapatkan naungan Allah ta’ala di hari kiamat adalah orang yang :

رجل دعته امرأة ذات منصب و جمال فقال : أني أخاف الله
“Seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang memilliki nasab (kedudukan) dan kecantikan untuk berbuat maksiat, namun laki-laki tersebut menolaknya dan mengatakan sesungguhnya aku takut kepada Allah ta’ala” (HR. Bukhari 6806 dan Muslim 1031).

Saudaraku yang ana cintai….kisah yang sudah ma’ruf di telinga kita tentang tiga orang yang terjebak dalam goa, dan wasilah untuk menyelamatkan mereka adalah dengan bertawasul dengan amal shalih masing-masing. Bukankan salah satu amal shalih mereka “meninggalkan perbuatan maksiat (berzina) padahal orang tersebut berkuasa atas wanita tersebut, namun ia meninggalkannya karena takut kepada Allah ta’ala. Maka Imam Bukhari Rahimahullah membuat 1 bab yang beliau namai باب فضل من ترك الفواحش.

Sebagai penutup Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah صلى الله عليه و السلام, keluarga, sahabat, dan umatnya dan semoga ana, orang tua ana dan semua kaum muslimin bisa masuk syurga firdaus kelak dan diselamatkan dari fitnah dunia dan neraka amiin!…..wallahua’lam.
Sekian semoga bermanfaat

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: