RSS

Haikat Takwa

04 Jan

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah ta’ala berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS. ALI ‘IMRAN 102).

Saudaraku yang ana cintai karena Allah ta’ala
Ketahuilah bahwasanya seruan Ilahiyah dalam ayat ini mengandung dua perkara (taklif) yang sangat agung, tidak mungkin kaum mukminin bisa bangkit tanpa keduanya yang tentunya setelah adanya bantuan Allah ta’ala, kedua perkara ini adalah bertakwa kepada Allah ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa dan mati di atas agama Islam.

Saudaraku….
Dalam Al-Qur’an terdapat sepuluh ayat (tempat) yang berisi berkaitan dengan perintah Allah ta’ala kepada hambanya untuk bertakwa, dan dalam ayat ini Allah ta’ala menegaskan perintahnya dengan kalimat “sebenar-benar takwa”.
Sungguh kalimat “sebenar-benar takwa” membuat para ulama bingung, sampai-sampai sebagian ulama mengatakan “seandainya seorang hamba jasadnya meleleh karena takut kepada Allah ta’ala maka hal ini belumlah cukup dikatakan sebagai sebenar-benar takwa”.

Kenapa ? karena Allah ta’ala Al-Jabbar “yang maha kuasa” yang jika menghendaki sesuatu cukup dengan mengatakan “Kun Fayakun”, Dzat yang maha menghidupkan dan mematkan, Dzat yang berkuasa atasa segala sesuatu.
Saudaraku…..
Para ulama salafus shalih mengatakan bahwa sebenar-benarnya takwa adalah :

أن يذكر تعالى فلا ينسى، وأن يطاع فلا يعصى، وأن يشكر فلا يكفر
“Hendaklah Allah ta’ala senantiasa diingat dan tidak dilupakan, senantiasa ditaati dan tidak dimaksiati, dan senantiasa disyukuri dan tidak dikufuri”
Sungguh Ar-Rahman telah meringankan hambanya dalam perintah “sebenar-benar takwa” dengan firman-Nya فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. AT TAGHAABUN 16), dimana ayat ini merupakan pengkhususan dari perintah takwa yang bersifat umum “sebenar-benar takwa”.

Saudaraku……
Hendaklah kita mengetahui, jika seorang hamba dibimbing oleh ketakwaannya maka berdzikir kepada Allah ta’ala dan tak pernah melupakannya, senantiasa bersyukur dan tidak pernah kupur, senantiasa mentaatinya dan tidak bermaksiat kepada-Nya, dan demikianlah mayoritas waktu dan keadaan yang ia gunakan.
Ia senantiasa memuji Allah ta’ala, melaksanakan apa saja yang diinginkan Allah ta’ala darinya yaitu berupa bertakwa kepada Allah ta’ala dengan sebenar-benar takwa semaksimal mungkin yang mampu untuk dilakukan.

Saudaraku…….
Ingatlah bahwa bertakwa kepada Allah ta’ala adalah mentaati-Nya, mentaati Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم , dengan cara melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangannya semaksimal mungkin yang ia mampu. Hanya saja ketaatan ini harus didasari oleh pengetahuan tentang perintah dan larangan serta cara melaksankannya. Maka dengan ini jelas bahwa setiap hamba wajib menuntut ilmu, berupa ilmu tentang Allah, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, yang akan membuahkan rasa cinta dan rasa takut di dalam dirinya.

Saudaraku……
Dengan mencari ilmu seorang hamba akan mengetahui segala perintah dan larangan Allah ta’a;a, mengetahui segala hal yang dicintai dan dibenci oleh Allah ta’ala, mencintai segala sesuatu yang dibenci Allah ta’ala dan membenci segala sesuatu yang dibenci Allah ta’ala. Dengan ketakwaan ini seorang hamba bisa mencapai derajat “walinya Allah ta’ala” dan dengan derajat ini ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akherat.

Saudaraku…..
Adapun makna dari kalimat وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. Ketika Allah ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa. Allah ta’ala juga melarang kita untuk mati dalam keadaan selain sebagai seorang Muslim, baik itu Yahudi, Nashrani, atau di atas agama bathil lainnya.
Lalu apakah seorang manusia mampu menentukan untuk mati di atas Islam atau di atas selain Islam? Tidak bisa. Namun tugas seorang hamba adalah senantiasa berserah diri kepada-Nya, berusaha untuk senantiasa berada di atas ketaatan kepada-Nya, supaya ia mati dalam keadaan Islam atau di atas agama Islam.
Sebagai penutup, tetaplah berada di atas ketakwaan agar kita bisa “menjamin diri kita” dengan kehendak Allah ta’ala untuk mati di atas Islam. Aamiin

Tasikmalaya, 05 Rabi’ul Akhir 1439 H / 03 Januari 2018

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: